Skip ke Konten

Dari Euforia Piala Dunia Menuju Kemenangan Perpustakaan: Belajar Strategi, Kolaborasi, dan Daya Tarik Layanan

Sudut Pandang Pustakawan (edisi ke-7)Sirajuddin, S.Pd.I.,S.IPI., M.Pd

judul: Dari Euforia Piala Dunia Menuju Kemenangan Perpustakaan: Belajar Strategi, Kolaborasi, dan Daya Tarik Layanan 

 

Piala Dunia selalu menghadirkan daya pikat yang luar biasa. Jutaan orang rela menggelontorkan uang untuk aksesoris dan jersey tim kesayangan di piala dunia 2026 ini, bahkan di Asia menyaksikan perhelatan ini harus ditebus dengan begadang hingga dini hari demi menyaksikan tim favorit bertanding.

Sirajuddin

Fenomena yang menunjukkan bahwa ketika seseorang memiliki ketertarikan yang tinggi terhadap suatu aktivitas, akan muncul dorongan intrinsik yang kuat untuk terlibat secara sukarela. Dalam kajian psikologi pendidikan, kondisi tersebut dikenal sebagai intrinsic motivation (Deci & Ryan, 1985), yaitu motivasi yang lahir dari minat, kesenangan, dan kepuasan terhadap aktivitas itu sendiri. Dari perspektif kepustakawanan, euforia Piala Dunia memberikan pelajaran penting bahwa ketertarikan merupakan pintu masuk utama dalam membangun partisipasi masyarakat terhadap layanan perpustakaan.

Saya memandangi spirit Piala Dunia ini sesungguhnya dapat direfleksikan dalam sistem pengelolaan perpustakaan saat ini, Sebagaimana pelatih sepak bola yang merancang strategi terbaik untuk meraih kemenangan, perpustakaan juga memerlukan strategi layanan yang adaptif, inovatif, dan berorientasi pada kebutuhan pengguna.

Ranganathan (1931) melalui Lima Hukum Ilmu Perpustakaan menegaskan bahwa books are for use dan every reader his or her book. Prinsip tersebut mengajarkan bahwa keberhasilan perpustakaan tidak hanya diukur dari banyaknya koleksi, tetapi dari kemampuan menghadirkan layanan yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka.

Membangun perpustakaan unggul dimulai dari kemampuan memilih koleksi yang relevan dengan kebutuhan sivitas akademika. Sama seperti pelatih yang menyeleksi pemain yang bisa memperkuat tim berdasarkan kompetensi dan karakter permainan, pustakawan perlu melakukan pengembangan koleksi berbasis kebutuhan pemustaka (collection development). Evans dan Saponaro (2012) menjelaskan bahwa pengembangan koleksi harus didasarkan pada analisis kebutuhan masyarakat, kurikulum, perkembangan ilmu pengetahuan, serta evaluasi penggunaan koleksi.

Di era digital, strategi tersebut juga harus diimbangi dengan penyediaan layanan berbasis teknologi, seperti perpustakaan digital, akses jurnal elektronik, repositori institusi, hingga layanan referensi daring, tanpa mengabaikan pentingnya koleksi tercetak sebagai sumber belajar yang tetap relevan.

Dalam analogi sepak bola, seorang pelatih dapat disamakan dengan pustakawan profesional. Pelatih bertugas membaca kekuatan lawan, menentukan formasi, membangun kerja sama antarpemain, dan melakukan evaluasi selama pertandingan berlangsung. Demikian pula pustakawan berperan sebagai perancang strategi layanan yang mampu menarik kunjungan, meningkatkan kepuasan pemustaka, serta membangun budaya literasi.

Joan M. Reitz dalam Dictionary for Library and Information Science menegaskan bahwa pustakawan merupakan tenaga profesional yang bertanggung jawab mengelola sumber informasi dan memastikan informasi tersebut dapat dimanfaatkan secara efektif oleh masyarakat.

 

Sebuah tim sepak bola tidak hanya bergantung pada ketajaman striker. Kemenangan lahir dari kolaborasi seluruh pemain, mulai dari penjaga gawang, bek, gelandang, hingga pemain yang memberikan assist sebelum terciptanya gol. Filosofi yang sama berlaku dalam pengelolaan perpustakaan. Setiap unsur layanan mulai sirkulasi, referensi, literasi informasi, teknologi informasi, repositori, hingga pelayanan administrasi harus memainkan perannya secara optimal.

Konsep ini sejalan dengan pendekatan service quality yang dikemukakan Parasuraman, Zeithaml, dan Berry (1988), bahwa kualitas layanan ditentukan oleh sinergi berbagai aspek yang menciptakan pengalaman positif bagi pengguna.

Pada akhirnya, Menjuarai perhelatan akbar Piala Dunia bukan sekadar mengangkat trofi, tetapi hasil dari perencanaan matang, strategi yang tepat, kolaborasi tim, dan semangat pantang menyerah. Spirit inilah yang patut diadopsi oleh perpustakaan. Jika perpustakaan mampu menghadirkan koleksi yang relevan, layanan yang inovatif, pustakawan yang profesional, serta pengalaman pengguna yang menyenangkan, maka "kemenangan" perpustakaan akan tercermin dari meningkatnya jumlah kunjungan, tumbuhnya budaya literasi, dan bsemakin kuatnya peran perpustakaan sebagai pusat pengetahuan di lingkungan perguruan tinggi maupun masyarakat.

Euforia Piala Dunia mengajarkan bahwa kemenangan tidak pernah lahir dari keberuntungan semata, melainkan dari visi yang jelas, strategi yang tepat, kolaborasi yang solid, serta kemampuan menghadirkan daya tarik yang mampu menggerakkan hati banyak orang. Nilai-nilai universal inilah yang semestinya menjadi inspirasi bagi setiap perpustakaan. Pustakawan bukan sekadar pengelola koleksi, tetapi pelatih strategi literasi yang merancang layanan agar selalu relevan, inklusif, dan berorientasi pada kebutuhan pemustaka.

Ketika perpustakaan mampu membangun koleksi yang tepat, menghadirkan layanan yang inovatif, memanfaatkan teknologi secara optimal, serta menciptakan pengalaman yang menyenangkan bagi pengguna, maka kunjungan bukan lagi sekadar angka statistik, melainkan wujud nyata kepercayaan masyarakat terhadap perpustakaan. Sebab, sebagaimana sebuah tim mengangkat trofi setelah melewati perjuangan panjang, perpustakaan pun akan meraih "kemenangan" ketika berhasil menjadi ruang yang selalu dirindukan, pusat lahirnya insan-insan literat, dan motor penggerak kemajuan ilmu pengetahuan serta peradaban bangsa.