Skip ke Konten

MAULID NABI: DARI SEMANGAT KECINTAAN MENUJU SEMANGAT ILMU

Sudut Pandang Pustakawan Edisi ke- 9 oleh: Sirajuddin

Momentum Mengingat Sang Pembawa Risalah

Maulid Nabi Muhammad SAW dirayakan oleh umat Islam di berbagai belahan dunia sebagai momentum untuk mengenang kelahiran manusia yang menjadi pembawa risalah Islam. Bagi umat yang mencintai Rasulullah, Maulid bukan sekadar sebuah perayaan tahunan, melainkan kesempatan untuk kembali mengingat sejarah, akhlak, perjuangan, dan keteladanan beliau.

Secara populer, Maulid diperingati pada 12 Rabiul Awal. Namun, para ahli sejarah dan ulama sebenarnya memiliki perbedaan pendapat mengenai tanggal persis kelahiran Rasulullah. Bulan Rabiul Awal relatif disepakati, sementara tanggalnya memiliki beberapa riwayat. Pendapat 12 Rabiul Awal merupakan pendapat yang paling populer di kalangan umat Islam.

Ketika Sejarah Bertemu dengan Tradisi Lokal

Di Indonesia, Maulid tampil dengan wajah budaya yang sangat beragam. Masjid, surau, rumah masyarakat, hingga ruang publik dihias dengan berbagai ornamen. Masyarakat menyiapkan makanan khas sesuai tradisi daerah masing-masing. 

Pada masyarakat Bugis, misalnya, telur dan sokko’ (beras ketan) menjadi simbol yang sangat dikenal. Penelitian mengenai tradisi Maulid masyarakat Bugis di Sidrap menjelaskan bahwa sokko’ dimaknai sebagai keteguhan, sedangkan telur memiliki simbol filosofis yang berkaitan dengan syariat, hakikat, dan makrifat.

Tradisi tersebut bukan sekadar makanan. Ia menjadi media sosial dan budaya untuk mempertemukan masyarakat, berbagi, bersedekah, serta memperkuat silaturahmi. Penelitian tentang tradisi Maulid masyarakat Bugis juga menunjukkan bahwa hiasan telur, pohon pisang, dan berbagai perlengkapan Maulid mengandung simbol harapan serta nilai pendidikan.

Maulid di Dunia Islam

Di luar Indonesia, peringatan Maulid juga memiliki bentuk yang berbeda-beda. Di Mesir, misalnya, Maulid menjadi bagian dari tradisi keagamaan dan kebudayaan masyarakat, sementara di berbagai negeri Muslim lainnya peringatan dapat diisi dengan pembacaan sirah, shalawat, ceramah, doa, sedekah, dan kegiatan sosial. 

Keragaman keragaman ini memperlihatkan bahwa kecintaan kepada Rasulullah dapat diekspresikan melalui bentuk budaya yang berbeda tanpa kehilangan substansi utamanya: mengenal dan meneladani Rasulullah melalui Kelahiran yang dirayakan.

“Insiden Telur” dan Pelajaran tentang Kebersamaan

Di kampung saya, Maulid terkadang memiliki cerita tersendiri. Setelah acara selesai, telur dan sokko’ yang sebelumnya dihias dengan indah bisa berubah menjadi sesuatu yang diperebutkan dan sama sama ingin mengambil dan membawa pulang sebagai ole-ole Maulid. 

Fenomena kecil ini mungkin terlihat lucu, tetapi sebenarnya menyimpan pelajaran sosial: tradisi yang dibangun atas dasar berbagi jangan sampai kehilangan nilai kebersamaannya hanya karena persoalan siapa mendapatkan bagian lebih dahulu.

Dari Masjid Menuju Perpustakaan

Sebagai pustakawan, saya melihat sesuatu yang lebih besar dari sekadar kemeriahan Maulid. Saya melihat semangat umat untuk berkumpul mencari makna, mendengarkan ceramah, membaca shalawat, dan mengenang sejarah Rasulullah.

Bukankah semangat yang sama seharusnya hidup di perpustakaan?

Maulid mengajarkan kita untuk berkumpul karena kecintaan kepada Rasulullah; perpustakaan mengajak kita berkumpul karena kecintaan kepada ilmu. Maulid menghadirkan sirah untuk dikenang; perpustakaan menyediakan buku agar pengetahuan dapat dipelajari. Maulid menyalakan kecintaan kepada Nabi; perpustakaan seharusnya menyalakan kecintaan kepada membaca.

Karena itu, 12 Rabiul Awal jangan berhenti sebagai tanggal dalam kalender Islam. Jadikan ia pengingat bahwa umat yang mencintai Rasulullah adalah umat yang juga mencintai ilmu. Dan perpustakaan adalah salah satu ruang terbaik untuk merawat kecintaan tersebut dengan membiasakan kehidupan berliterasi informasi, menyiapkan lembaran lembaran ilmu untuk dikaji dan dipublikasikan.

Maulid bukan hanya tentang merayakan kelahiran. Ia adalah ajakan untuk menghidupkan kembali keteladanan, pengetahuan, dan peradaban dan semangat menuntut ilmu yang diajarkan Oleh Rasulullah Muhammad SAW..

Pada akhirnya, Maulid Nabi hendaknya tidak berhenti pada kemeriahan acara, hiasan telur, sokko, ceramah, shalawat, maupun pertemuan sesaat di masjid dan ruang publik. Esensi yang lebih penting adalah bagaimana kecintaan kepada Rasulullah Muhammad SAW diterjemahkan menjadi perilaku yang terus hidup setelah perayaan selesai. Jika Maulid mampu menggerakkan umat untuk berkumpul, berbagi, bersedekah, mendengarkan kisah Rasulullah, dan mempererat persaudaraan, maka semangat yang sama semestinya dapat dibawa ke perpustakaan sebagai ruang ilmu dan pembelajaran. Perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku, tetapi ruang untuk merawat tradisi membaca, berpikir, berdiskusi, mencari kebenaran, dan membangun peradaban. Karena itu, dari semangat Maulid kita dapat belajar satu hal penting: kecintaan kepada Rasulullah harus melahirkan kecintaan kepada ilmu, dan kecintaan kepada ilmu harus melahirkan perubahan dalam kehidupan. Dengan demikian, Maulid tidak hanya menjadi peristiwa yang dikenang setiap Rabiul Awal, tetapi menjadi energi intelektual yang terus menyala di tengah masyarakat termasuk di ruang perpustakaan.

Daftar Referensi / Sumber Rujukan

  1. Amiruddin, Z. (2022). Simbol telur dan beras ketan dalam tradisi Maulud suku Bugis (Studi masyarakat Sidrap). Skripsi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
  2. Tjake, A. A. (2022). Tradisi Maulid Nabi pada masyarakat Bugis di Kelurahan Ponrangae Kabupaten Sidrap: Tinjauan nilai pendidikan agama Islam. Skripsi, IAIN Parepare.
  3. Hermin, H., Ahmadin, A., & Asmunandar, A. (2020). Maudu' Lompoa: Studi sejarah perayaan Maulid Nabi terbesar di Cikoang Kabupaten Takalar (1980–2018). Pattingalloang: Jurnal Pemikiran Pendidikan dan Penelitian Kesejarahan, 7(3).
  4. Irsyad, M. F. (2024). The Prophet’s Maulid Tradition in Cultural and Religious Perspectives: A Literature Review of Muludan Celebrations in Indonesia. International Journal of Religion and Social Community, 2(2).
  5. Arreza, M. N. (2024). Tradisi seribu telur dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW: Studi etnografi di Kampung Bugis, Dusun Batulawang, Desa Kemujan, Kecamatan Karimunjawa. Skripsi, UNISNU Jepara.
  6. Wikandono, W., Ramadhan, F. F., Rohmah, S., & Fadli, H. (2026). To'dok Telok, Manre Ka'dok: Islamic traditions, Bugis cultural identity, and maritime communities on Kemujan Island, Karimunjawa. Sutasoma: Jurnal Sastra Jawa, 14(1).
  7. Nonci, H. (2012). Maulid dan Natal. Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman, 8(1).
  8. Ilyas, M., Attamimi, M. I., Muttaqin, M. N., Soebahar, H., Amal, K., & Mursalim. (2026). Kenduri, selametan, tahlilan, dan Maulid Nabi: Menakar tradisi lokal di Indonesia dalam perspektif Islam. AJMIE: Alhikam Journal of Multidisciplinary Islamic Education.

buku yang relevan


MERDEKA BUKAN SEKADAR MERIAH: MEMAKNAI AGUSTUS DENGAN MEMBACA DAN BERKARYA
sudut pandang pustakawan  Edisi ke-8Sirajuddin (Pustakawan Madya)