MERDEKA BUKAN SEKADAR MERIAH: MEMAKNAI AGUSTUS DENGAN MEMBACA DAN BERKARYA
oleh Sirajuddin
Agustus yang Meriah, tetapi Apa Makna Kemerdekaan?
Bulan Agustus hampir selalu menjadi bulan yang sibukdengan seremoni mengisi agustusan. Waktu dan perhatian kita beririsan dengan berbagai kegiatan untuk menyemarakkan 17 Agustus: upacara, perlombaan, pemasangan bendera, jalan santai, hingga berbagai kegiatan hiburan.
Semua itu tentu penting sebagai bentuk kegembiraan memperingati kemerdekaan. Namun, pertanyaan yang lebih mendasar perlu kita ajukan: Apakah kita benar-benar sedang memaknai kemerdekaan, sudah mengisi kemerdekaan, atau sekadar mengulang seremoni setiap tahun?
Kemerdekaan seharusnya tidak berhenti pada kemeriahan saja. Ia harus hadir dalam kualitas manusia Indonesia: semakin terdidik, kritis, produktif, berkarakter, dan mampu menghasilkan karya bagi bangsanya (masyarakat dan bangsa Indonesia).
Dalam konteks perayaan kemerdekaan saat ini gagasan Taufiq Ismail relevan untuk direnungkan. Ia pernah mengkritik lahirnya “generasi nol buku”—generasi yang mengalami persoalan dalam budaya membaca dan menulis. Baginya, membaca dan menulis bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan bagian penting dalam membangun kualitas manusia.

Sirajuddin
Membaca sebagai Bentuk Nyata Mengisi Kemerdekaan
Sebagai pustakawan, saya melihat salah satu ukuran sederhana dalam mengisi kemerdekaan adalah kesadaran untuk terus belajar. Dan salah satu jalan paling mendasar untuk belajar adalah membaca.
Karena itu, ketika perpustakaan perguruan tinggi masih relatif sepi dari kunjungan mahasiswa, kita patut melakukan refleksi. Apakah generasi kampus kita sudah benar-benar memahami bahwa pengetahuan merupakan salah satu modal utama kemerdekaan?
Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 menempatkan perpustakaan sebagai wahana pendidikan, penelitian, informasi, dan peningkatan kecerdasan bangsa. Bahkan perpustakaan perguruan tinggi diarahkan untuk mendukung pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Artinya, perpustakaan bukan sekadar ruangan berisi rak buku. Ia adalah infrastruktur intelektual. Taufiq Ismail bahkan mengingatkan bahwa lemahnya kebiasaan membaca berhubungan dengan lemahnya kemampuan menulis.
Gedung Tinggi Harus Diikuti Budaya Ilmu yang Tinggi
Perkembangan perpustakaan Indonesia sebenarnya menunjukkan optimisme. Gedung Perpustakaan Nasional RI di Jakarta tercatat sebagai gedung perpustakaan tertinggi di dunia, dengan ketinggian sekitar 126 meter. Rekor tersebut kembali ditegaskan MURI pada 2025.
Namun, Kepala Perpustakaan Nasional mengingatkan bahwa yang lebih penting bukan hanya ketinggian gedung, melainkan aktivitas, isi, dan manfaat yang berlangsung di dalamnya.
Pesan tersebut seharusnya juga menjadi refleksi bagi perpustakaan perguruan tinggi. Gedung yang megah, koleksi yang banyak, teknologi yang canggih, dan ruang baca yang nyaman belum cukup jika sivitas akademika tidak menjadikannya sebagai ruang belajar dan penelitian.
IFLA menegaskan bahwa perpustakaan akademik merupakan institusi inti bagi pendidikan dan penelitian, termasuk dalam dukungan literasi informasi, akses pengetahuan, open access, serta dukungan riset.
Dari Jurnal Menuju Budaya Berkarya
Di lingkungan perguruan tinggi, kita juga menyaksikan perubahan orientasi dalam berkarya. Dosen dan peneliti semakin dituntut menghasilkan publikasi ilmiah, terutama artikel pada jurnal yang memiliki reputasi dan indeks tertentu.
Perkembangan ini penting karena publikasi ilmiah memperkuat ekosistem penelitian dan penyebaran pengetahuan. Namun, jangan sampai orientasi terhadap jurnal membuat tradisi menulis buku menjadi kehilangan tempat.
Buku tetap memiliki peran penting dalam membangun pengetahuan yang lebih utuh, mendalam, dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Karena itu, mengisi kemerdekaan di kampus semestinya tidak hanya diukur dari berapa banyak artikel yang berhasil dipublikasikan, tetapi juga dari seberapa banyak gagasan yang berhasil kita dokumentasikan, ajarkan, dan wariskan. Membaca melahirkan gagasan; penelitian menguji gagasan; dan menulis membuat gagasan menjadi warisan.
Perpustakaan Harus Mendekati Kebutuhan Sivitas Akademika
Karena itu, perjuangan pustakawan hari ini bukan sekadar menunggu pemustaka datang. Perpustakaan perlu mendatangi kebutuhan mereka. Bagi dosen pengajar dan dosen peneliti, perpustakaan harus hadir sebagai mitra riset: membantu penelusuran literatur, menemukan sumber terpercaya, mendukung literasi informasi, mengenalkan sumber elektronik, serta membantu peneliti mengelola dan memanfaatkan informasi secara efektif.
IFLA juga menempatkan pustakawan akademik sebagai pendukung literasi informasi dan pemberi bantuan penelitian kepada sivitas akademika.
Pada akhirnya, saya memandang bahwa menyemarakkan Agustus memang perlu, tetapi memerdekakan manusia Indonesia jauh lebih penting.
Kemerdekaan akan terasa maknanya ketika masyarakatnya gemar belajar, membaca, berpikir, meneliti, menulis, dan menghasilkan karya. Jika bulan Agustus hanya membuat jalanan ramai tetapi ruang-ruang pengetahuan tetap sepi, barangkali kita perlu bertanya kembali tentang makna kemerdekaan itu sendiri.
penutup dari opini ini "Merdeka untuk belajar, berkarya dan mewariskan pengetahuan", mari kita jadikan setiap Agustus bukan hanya sebagai momentum mengibarkan bendera di halaman rumah, kampus, dan kantor, tetapi juga sebagai momentum mengibarkan semangat belajar di dalam diri.
Datanglah ke perpustakaan, buka buku, baca jurnal, berdiskusi, lakukan penelitian, dan tulislah gagasan. Sebab bangsa yang benar-benar merdeka bukan hanya bangsa yang mampu merayakan kemerdekaannya, tetapi bangsa yang mampu menggunakan kemerdekaan itu untuk menjadi lebih berpengetahuan, lebih kritis, lebih produktif, dan lebih bermanfaat.
Dirgahayu Indonesia. Merdeka untuk membaca, merdeka untuk berpikir, dan merdeka untuk berkarya.
